Pamekasan, Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, Pangkalan TNI AL Batuporon bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), Forum Relawan Penanggulangan Bencana (FPRB) Pamekasan, dan Kelompok Tani Hutan (KTH) Sabuk Hijau melakukan pembibitan 1000 mangrove, Minggu 23/02/2025. Sementara yang lain sibuk menanam, kami menyiapkan mulai dari bibitnya hingga nanti siap tanam, karena bibit mangrove lumayan susah untuk mendapatkannya. Demikian disampaikan Letda (P) Anang Satria, Danpos TNI AL Pamekasan saat melakukan pembibitan di Pantai Lembung Galis Pamekasan. "Mangrove merupakan penyerap karbon terbaik dan penghasil oksigen, jadi penting untuk mengurangi efek perubahan iklim. Oleh sebab itu kami memulai dengan melakukan pembibitan sehingga nanti kami sudah punya bibit yang siap tanam," jelas Anang. Sementara Budi Cahyono Sekjen FPRB Pamekasan mengatakan, bahwa kolaborasi dengan banyak pihak dalam rangka mitigasi bencana selalu dilakukan. "Karena b...
JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menyoroti peningkatan aktivitas kegempaan selama 2021 di Selatan Jawa. Dia meminta masyarakat di pesisir Pulau Jawa waspada terhadap potensi tsunami dampak dari peningkatan aktivitas kegempaan.
Dwikorita mengaku menyayangkan jalur evakuasi untuk masyarakat di pesisir Pulau Jawa yang belum memadai. Padahal, jalur evakuasi itu penting untuk menyelamatkan diri bagi masyarakat pesisir jika terjadi tsunami. Oleh karena itu, dia meminta agar jalur evakuasi pada saat tsunami diperbaiki.
"Mengingat juga potensi tsunami bisa saja terjadi, dan kami baru saja, menyelesaikan survei di sepanjang pesisir Jawa, ternyata jalur-jalur evakuasi tsunami, masih sebagian besar kabupaten di pesisir Jawa, jalur evakuasi tsunami masih belum memadai," beber Dwikorita melalui akun YouTube BMKG, Jumat (21/5/2021).
"Sehingga, meskipun BMKG mengeluarkan peringatan dini, tetap jalur tersebut belum memadai untuk dilakukan evakuasi. Masih ada jalur yang terpotong sungai yang rawan dilintasi tsunami dan tidak ada jembatan untuk menyebarang," imbuhnya.
Tak hanya itu, Dwikorita meminta pemerintah daerah mewaspadai peningkatan aktivitas kegempaan di Selatan Jawa dengan mengecek bangunan-bangunan vital. Hal itu diantisipasi untuk meminimalkan terjadinya korban jiwa jika terjadi gempa berkekuatan besar.
"Kami mohon untuk segera melakukan, atau memastikan, bahwa konstruksi-konstruksi bangunan di wilayah pesisir Selatan Jawa, terutama bangunan vital seperti sekolah, gedung mal, kantor, mohon pastikan itu benar-benar sudah sesuai dengan standar bangunan tahan gempa," beber Dwikorita.
"Mohon rumah sakit, bangunan penting yang banyak orang akan ada di situ. Nah kenapa demikian, untuk antisipasi adanya peningkatan kejadian gempa bumi, yang menurut sejarah kegempaan dengan kekuatan bisa melampaui 6, dan dapat berpotensi tsunami," ujarnya.
Komentar
Posting Komentar